Showing posts with label Sosial Politik. Show all posts
Showing posts with label Sosial Politik. Show all posts

Film: Seni sebagai Media Mengembalikan Nasionalisme



Fenomena yang ada saat ini adalah euforia masyarakat terhadap seni tontonan sangat tinggi. Seni tontonan dapat berupa bagaimana seni musik melalui konser, hingga dunia perfilman. Sebagai seni tontonan, film merupakan seni tontonan yang berkembang sangat pesat di dunia hiburan. Seiring dengan perkembangannya, film juga semakin luas dalam hal fungsi dan esensinya. Ketika pada awalnya film digunakan (hanya) sebagai seni tontonan dan hiburan, dewasa ini film berkembang menjadi media seni yang mampu mentransformasi nilai-nilai kemanusiaan, religi, pendidikan, hingga tentang nasionalisme.

Dalam kaitannya dengan nilai-nilai nasionalisme, film mampu memberikan sebuah stimulus kepada masyarakat akan pentingnya rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Stimulus itu tersampaikan melalui nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Nilai-nilai nasionalisme dapat berupa bagaimana cinta kita terhadap negeri ini dalam aspek pendidikan, menghargai pahlawan, sosial budaya, hingga politik. Dengan pesan-pesan yang disampaikan dari berbagai aspek diharapkan kita mempunyai inspirasi untuk lebih mencintai negeri ini dengan cara yang kita pahami dan dalami di berbagai aspek.

Nagabonar jadi 2
Sebuah film epik yang mampu memadahi semua aspek yang dibutuhkan seorang individu maupun sekelompok masyarakat. Film Nagabonar jadi 2 ini mengandung nilai-nilai nasionalisme yang tinggi. Nilai-nilai yang tinggi ini mampu disampaikan dengan sangat ringan dengan diselingi bumbu-bumbu jenaka hingga kehidupan keluarga.

Misalkan fenomena bagaimana Bonaga begitu yakin menggagalkan kerja samanya dengan bangsa asing dalam mengembangkan sumber daya alamnya. Atau ketika Nagabonar menyindir dengan prestasi sepak bola kita yang tidak bagus lantaran tidak adanya lahan untuk bermain sepak bola karena berkembangnya bisnis properti macam perumahan-perumahan, atau sejenisnya. Adegan-adegan seperti ini merupakan sebua pesan yang ringan dan sangat mudah untuk diterima dengan nilai yang sangat dalam ketika kita mampu memaknainya lebih jauh.

Hingga pada puncaknya, rasa nasionalisme terhadap pahlawan ditunjukkan dengan bagaimana Nagabonar dengan beraninya memanjat patung Jendral Soedirman untuk menurunkan hormatnya—karena yang seharusnya hormat adalah kita, bukan Jendral Soedirman. Sekalipun kita layak untuk mendapatkan hormat itu jika dan hanya jika kita mampu memberikan sumbangsih kita bangsa paling tidak setara dengan bagaimana perjuangan Jendral Soedirman kala itu dalam perang kemerdekaan.

Masih banyak pesan-pesan yang disampaikan di dalam film ini yang mampu menumbuhkan kemlai rasa nasionalisme kita. Pesan-pesan sejenis dapat kita dapatkan pula pada film Denias hingga Laskar Pelangi baru-baru ini. Di dalam film-film itu, kita bisa menjumpai bagaimana generasi bangsa berjuang untuk menjadi bangsa yang baik dengan terus berusaha keras dalam meraih pendidikan.
Ironisnya, film-film nasional yang berkembang saat ini bagitu didominasi dengan tema-tema kenakalan remaja, horror, hingga humor saja. Jika ada film yang bertemakan sains fiksi, patriotisme, sosial, dan sebagainya datang dari dunia Barat, yang justru akan membuat seni-seni nasional kita tidak mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kembali lagi ditekankan bahwa nasionalisme merupakan sebuah kebutuhan mutlak dari sebuah masyarakat dalam sebuah Negara untuk menciptakan persatuan dan kesatuan yang kokoh. Seyognya, film-film dengan tema nasionalisme seperti inilah yang harus terus dikembangkan. Dengan demikian, adalah kewajiban kita sebagai masyarakat yang beradab dan berbudaya untuk terus menciptakan karya-karya seni yang mampu menumbuhkan rasa nasionalisme.

*) dipublikasikan oleh majalah KOMUNIKASI UM edisi Desember 2009

Pungli Berbirokasi: Sebuah Catatan Kesalahan Sistem


Ada yang aneh dengan sistem di negeri ini, di saat pemerintah menggembor-gemborkan untuk memberantas pungutan liar (pungli), justru beberapa sistem di aparatur negara terdapat ketimpangan yang akan mengarah pada aksi pungli tersebut.

Ambil contoh di Kabupaten Sidoarjo. Di Kota Udang tersebut, terdapat sebuah Peraturan Daerah bagi seluruh pengguna kendaraan bermotor untuk dikenakan biaya parkir berlangganan, baik bagi kendaraan roda dua atau empat atau lebih. Penarikan ini, dikenakan setahun sekali tepatnya pada saat proses pembayaran pajak kendaraan di Kantor Samsat sebesar Rp 25.000,00 per kendaraan (roda dua).

Telisik demi telisik, pihak kepolisian merasa tidak menahu tentang tarikan biaya parkir berlangganan ini (sekalipun pembayaran biaya parkir dilakukan di kantor Samsat) karena memang urusan parkir berlangganan berada di bawah naungan Dinas Perhubungan (Dishub). Pun demikian, Dishub pula tidak menahu tentang peraturan tersebut. Mereka hanya menkonfirmasi bahwa semua itu telah ditetukan oleh pihak DPRD kota di dalam Peraturan Daerah No.1 Tahun 2006, Kabupaten Sidoarjo.

Di dalam Perda tersebut, diatur terkait sistem parkir berlangganan di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Parkir berlangganan berlaku hanya pada kawasan-kawasan tertentu, yang terdapat tanda parkir berlangganan di sepanjang kota Sidoarjo, di antaranya kawasan kompleks GOR Delta Sidoarjo, Alun-alun Kota Sidoarjo, Pasar besar di kawasan Jalan Gajahmada, dan sebagainya.

Anehnya, semua daerah-daerah tersebut hanya berlokasi di kawasan kota Sidoarjo saja (Kecamatan Sidoarjo). Padahal pada kenyataannya Kabupaten Sidoarjo itu sendiri terdiri dari sekitar 15 kecamatan yang tersebar dari ujung paling selatan (Kecamatan Jabon) hingga Kecamatan Krian. Pertanyaannya adalah, apakah Kabupaten Sidoarjo itu hanya berada di kawasan kota saja? Mengingat Perda parkir berlangganan tersebut berlaku bagi seluruh pangguna kendaraan bermotor di daerah kabupaten Sidoarjo tanpa terkecuali.

Lebih parahnya, tidak ada realisasi dari Perda tersebut. Alih-alih merealisasikan Perda, pihak pemerintah hanya memasang papan tanda bertuliskan "KAWASAN PARKIR BERLANGGANAN" di beberapa titik di kawasan yang telah ditentukan. Hasilnya? Para juru parkir (jukir) masih berkeliaran di mana-mana, termasuk di kawasan-kawasan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Bahkan, mereka memasang karcis dan menarik biaya parkir kepada setiap pengguna motor yang memarkirkan kendaraan.

Kaji Ulang Perda "Liar"
Jika memang peraturan-peraturan daerah seperti ini dibiarkan eksis dan direalisasikan alakadarnya, tanpa adanya pengawasan yang ketat, tentu hal ini akan sangat merugikan masyarakat (yang ujung-ujungnya akan menguntungkan pembuat undang-undang). Kerugian yang diterima masyarakat tidak hanya dari segi finansial, tetapi juga di bidang kepercayaan masyarakat akan kinerja pemerintah.

Pada kasus seperti ini, masyarakat mulai merasakan keganjilan yang terjadi dalam perundangan pemerintahan daerah ini. Walaupun sejauh ini ditengarahi (hanya) pada satu aspek saja, tentang pengaturan sistem parkir berlangganan di kawasan-kawasan tertentu, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa akan ditemukan berbagai macam keganjilan atas Perda-Perda yang ada di daerah tertentu, tidak hanya di Kabupatn Sidoarjo.

Melihat relevansi dari Perda yang demikian,maka sudah saatnya pemerintah harus mengkaji ulang beberapa Perda yang dinilai tidak logis dalam realisasinya, baik dari segi urgensi maupun efektivitas. Dengan langkah demikian akan mengurang aksi korupsi yang melibatkan pungli yang bersembunyi di balik sistem birokasi.

Organisasi: Sistem, Pemikir, dan Pekerja

Teringat dengan seseorang di organisasiku, dia berkata ketika seleksi perekrutan anggota baru: pada intinya, kamu nanti ikut di organisasi ini sebagai seroang pemikir dengan ide-ide dan kreativitasmu atau kamu ingin menjadi anggota yang suka bekerja? Sebuah pertanyaan yang sulit bagi seorang yang baru mengetahui sebuah organisasi.

Pertanyaan itu adalah benar dilihat dari bagaimana tipe organisator, di mana setiap individu mempunyai karakter sendiri-sendiri dan kemampuan sendiri. Sehingga, urgensi untuk menjawab pertanyaan itu menjadi sebuah keharusan karena dalam hal ini seorang pemimpin dan orang-orang di dalamnya bisa mengerti di mana akan meletakkan individu tersebut.

Organisasi adalah sebuah sistem

Dari pengertian dasar sebuah organisasi, adalah sekumpulan individu yang mempunyai tujuan yang sama. Namun, pada kenyataannya, sebuah organisasi tidak hanya sekumpulan individu-individu saja. Kita tidak bisa menganggap penumpang di bus sebagai sebuah organisasi.

Di sisi lain, kita bisa mengatakan keluarga adalah sebuah organisasi. Kenapa? Hal yang membedakan antara kumpulan individu-individu ini adalah sistem. Dikatakan sebagai sistem, organisasi terdiri dari berbagai elemen di mana setiap elemen di dalamnya mampu bekerja saling terkait dan mendukung.

Tidak hanya saling berhubungan dan saling mendukung, sistem yang berlaku di dalam organisasi itu mempunyai tujuan yang sama. Sekalipun tujuan itu banyak, sebuah organisasi mempunyai sebuah kebijakan (dibuat oleh pemimpin atau stakeholder organisasi tersebut) untuk melakukan skala prioritas dalam menentukan tujuan.

Sebuah sistem tidak harus selamanya sama dan saling sejalan. Sebuah sistem yang bagus adalah di mana di dalamnya terdapat adanya mekanisme yang sangat variatif dan mengerucut dalam satu tujuan. Tidak selamanya sama: di dalam sebuah sisrem terdapat aspek pengontrol yang akan menentukan path sebuah organisasi untuk mencapai tujuannya dengan baik.

Pekerja atau Pemikir?
Jika sistem dianalogikan dengan metabolisme tubuh, maka setiap elemen di dalam tubuh bekerja dengan tepat dan saling terkait. Hal ini karena dikontrol oleh sebuah “pemikir” yakni otak dan para “pekerja” pada organ tubuh yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri.

Hal demikian juga ditemukan di dalam organisasi pada umumnya yang terdiri dari para mahasiswa ataupun para aktivis lainnya. Ketika sebuah organisasi terdiri dari sua aspek tersebut maka organisasi bisa dikatakan sebagai sebuah sistem yang baik. Sehingga tidak ada yang salah dengan adanya pilihan individu untuk menjadi seorang pemikir atau pekerja dalam sebuah organisasi.

Eksistensi dua aspek tersebut akan memaksimalkan sebuah organisasi. Optimalisasi sebuah organisasi tersebut digunakan dengan menggunakan suatu inovasi melalui analisa elemen-elemen yang terdapat di dalam organisasi tersebut.

Bagaimana dengan mereka yang berada di tengah-tengah antara pemikir dan pekerja? Ada dua kemungkinan, apakah dia adalah mempunyai idealisme akan apa yang dia miliki yakni menjadi aktivis yang menggabungkan antara berfikir dan bekerja. Di sisi lain, seseorang yang mempunyai idealisme untuk menjadi aktivis dengan tanpa memiliki kemampuan berfikir dan bekerja: pada kebanyakan kasus dan kenyataan, masyarakat lebih memilih individu yang demikian sebagai “pengikut” kebijakan, karena eksistensinya bergantunga dari apa yang menjadi euforia di dalam organisasi tersebut.

Bagaimanapun sebuah organisasi, peran para pemikir dan pekerja haruslah mampu membentuk sebuah sistem yang baik. Hal ini akan kembali dengan tujuan dari sebuah organisasi itu sendiri: menjadi lebih baik.

JANGAN TAKUT MENJADI PEMIMPIN TANPA KARISMA


Kepemimpinan merupakan sebuah hal yang “mudah” bagi masyarakat saat ini. Anda tinggal pergi ke sebuah toko buku, dan Anda akan menjumpai berbagai buku dengan tema kepemimpinan dengan berbagai langkah dan teori.

Jika dilihat dari teori sosiologi lama, kekuasaan (baca: kepemimpinan) pada dasarnya ada tiga: karismatik, tradisional, da birokrat. Sehingga dengan mentah, dimungkinkan, masyarakat pun mengartikan seorang pemimpin seharusnya mempunyai penampilan yang berkarisma. Kita akan terlalu panjang mencari contoh yang spesifik: Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang terbaru, merupakan contoh yang familiar di mata masyarakat saat ini tentang pentingnya seorang pemimpin yang karismatik.

Namun, menjadi pemimpin bukanlah merupakan hal yang mudah, semudah membalikkan halaman buku-buku kepemimpinan tersebut. Pun demikian, menjadi seorang pemimpin tidaklah sesuatu yang berat—menemukan karisma yang menurumayarakat adalah hal yang lahiriyah. Tetapi menjadi seorang pemimpin adalah bagaimana Anda menemukan diri Anda di antara para orang-orangnya Anda. Sehingga, bukanlah hal yang perlu diperdebatkan apakah harus menjadi seseorang yang karismatik untuk menjadi seorang pemimpin ataukah memandang bahwa karisma adalah hal yang bukan pasti dalam kepemimpinan.

Penampilan bukan Jaminan

Kita akan lebih tahu tentang kata bijak bahwa kita akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, hal ini memang benar jika kita mencari seorang jodoh atau yang lainnya. Namun, tidak semua seorang pemimpin harus mempunyai penampilan yang serba matching ataupun mempunyai sisiran rambut yang rapih. Tony Blayr, mantan Perdana Menteri Inggris, adalah salah satu seorang pemipin besar di tanah Britania yang seakan mengesampingkan ke mana rambutnya disisir.

Sekalipun penampilan bukanklah harga mati, tetapi bukanlah penampilan adalah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Perlu kita ingat adalah bukan sebagus apa baju yang kita kenakan, tetapi kapan kita memakai baju yang tepat di saat yang tepat.

Siapa yang Anda Pimpin?
Pepatah bilang, lain ladang lain belalang. Lain lubuk, lain ikan. Sekalipun hal ini tidak ada kaitannya dengan dunia perpolitikan, ataupun kepemimpinan, namun hal ini sedikit sedikit merefleksikan kita pada sikap kita—bagaimana kita besikap di suatu kalangan masyatakat yang plural.

Artinya dalam kaitannya dengan kepemimpinan adalah bahwa masyarakat yang berbeda membutuhkan perlakuan yang berbeda pula. Secara tidak langsung, membutuhkan gaya memimpin yang berbeda pula.

Sebagai contoh, salah satu pemimpin di negeri Pizza, Italia Berluconi (mungkin dari yang penggila sepak bola akan tahu ini) adalah salah satu pemimpin yang sangat disukai masyarakatnya, tidak peduli telah berapa kali Berlusconi melakukan kesalahan. Karena apa? Hal ini karena Berlusconi telah dianggap sebagai bagian dari masyarakat—atas kemampuanya dalam mengerti bagaimana karakter masyarakatnya.

Bertanggung Jawab
Seorang pemimpin adalah bukan seseorang yang bersembunyi setelah melakukan kesalahan. Seorang pemimpin haruslah seseorang yang dengan tegas mau menanggung konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan, baik berupa keputusanm tindakan hingga kebijakan yang menyangkut hajat orang banyak.

Kita tidak perlu membahas hal ini lebih jauh karena pada dasarnya semua orang akan mengerti bahwa sebagus apapun seorang pemimpin tetapi jika ia tidak punya rasa tanggung jawab, sama halnya ia tidak mempunyai jiwa kepemimpinan yang bagus. Sehingga, memang bertanggung jawab adalah modal dasar ketika individu menjadi seorang pemimpin.

Tidak Harus Orator yang Bagus
Jika disimpulkan dengan mentah, di dunia kampus mahasiswa lebih sering menghubungkan kepemimpinan (baca: perpolitikan organisasi) dengan bagaimana kemampuannya berorasi. Benarkah kemampuan berorasi adalah jaminan seorang adalah pemimpin yang besar/berkarisma?

Hal ini bukanlah hal yang pasti. Orasi yang bagus, mungkin akan membuat Anda dikenal oleh masyarakat luas. ITU saja. Tetapi menjadi seorang pemimpin tidaklah hanya sebatas bagaimana Anda diketahui oleh masyarakat atas kemampuan Anda dalam merorasi, melainkan lebih dari itu: action is more than words.

Jika boleh menyimpulkan, seorang pemimpin memang membutuhkan sebuah karisma dalam memimpin. Mereka seakan telah dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, bukan berarti mereka yang tidak ditakdirkan memiliki karisma? Dengan melakukan apa yang telah diuraikan di atas, maka secara tidak langsung karisma seorang akan terbentuk dengan sendirinya—dan ia menjadi seorang pemimpin yang besar.

Indonesia Bisa Menjadi Tuan Rumah FIFA Piala Dunia 2022 Jika...(2)


indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Hal ini pastinya akan menjadi “tantangan” tersendiri bagi penyelanggara. Tetapi masalah bentang negara kita di khatulistiwa tentunya tidak bisa dianggaps sebagai hambatan, tetapi justru menjadikannya sebagai pelengkap. Artinya ketika Indonesia menjadi tuan rumah, penyelanggara seharusnya melaksanakannya dengan baik, jujur, atau dengan kata lain secara profesional.

Pertanyannya, siapa yang akan menjadi penyelanggara? Jawaban atas pertanyaan itu pastinya tertuju kepada badan otoriter persepakbolaan nasional PSSI. Semua orang tahu tentang PSSI, dan bagaimana prestasinya (baca: kegagalan) badan ini. Sehingga ketika badan ini menjadi panitia hajatan akbar 4 tahunan ini, seluruh masyakat berani bertaruh bahwa yang didapatkan adalah kegagalan (lagi).

Kita tidak perlu menyebutkan satu-persatu kegagalan PSSI dalam me”manage” persepakbolaan kita—nihil prestasi di sepak bola nasional maupun internasional merupakan barometer bagaimana kualitas “yang punya hajat”. Dan kita pun sebagai bangsa yang nasionalis tidak akan mau nasionalis kita terkikis oleh kebijakan (kepentingan) para pengurus PSSI.

Sebagai gambaran bahwa PSSI merupakan sebuah badan otoriter yang langsung dibawahi oleh FIFA (selaku badan otoriter dunia). Sehingga pemerintah tidak bisa ikut campur besar dalam kebijakan PSSI. Namun, yang terjadi saat ini adalah bagaimana PSSI dipenuhi oleh para golongan orang-orang yang berkepintingan demi golongannya sendiri.

Tengok saja ketua umum PSSI, Nurdin Halid, seorang yang terang-terangan tersangkut kasus korupsi kelapa sawit masih dengan mudahnya memberikan “instruksi” kepada anak buahnya tentang agenda PSSI meski dari balik jeruji. Di sisi lain, dia merupakan salah satu caleg kawakan di salah satu parpol besar di negeri ini. Artinya, keberadaannya di badan otoriter ini adalah hanyalah hal yang justru mengancam ekistensi persepakbolaan Indonesia. Itu masih di tingkat atas. Bagaimna di tingkat PSSI di tingkat yang lebih rendah? Bisa dijamin bahwa ada “Nurdin Halid” lain yang nangkring di jabatan tertentu.

Yang harus kita lakukan saat ini bagaimana kita menggunakan SDM kita yang melimpah ruah ini sebagai modal untuk “melahirkan kembali” PSSI kita. Artinya, revolusi pangurus PSSI adalah harga mati (sebenarnya juga berlaku di DPR/MPR di Senayan). Dengan demikian, maka akan ada PSSI yang siap dan benar-benar profesional dalam menjalankan roda persepakbolaan Indodesia, termasuk penyelenggaraan FIFA Piala Dunia. Amin

bagaimana hubungannya Freeport dengan Indonesia menjadi Tuan Rumah FIFA Piala Dunia 2022?
silahkan tunggu pembahasan selanjutnya di “Sosial Politik

Individualisme Vs Egoisme

Orang-orang terlalu buruk dan sempit dalam memaknai individualsime dan egoisme. Masyarakat lebih mengenal individualisme sebagai hal yang negatif dalam masyarakat. Seseorang yang individualistik dipandang sebagai seseorang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tanpa memikirkan orang lain.

Pandangan seperti ini tidak selamanya benar. Kita bisa kembali pada analogi yang diucapkan oleh Adam Smith tentang teori individualisme ini. Jika pada malam itu adal seratus manusia di China meninggal, Anda yang berada di Inggris malam itu juga masih bisa tidur lela. Di sisi lain, jika pada malam itu ujung jari Anda tergores dan luka, atau bernanah, mungkin Anda tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal itu.

Konsepsi seperti ini sering disalahartikan oleh beberapa golongan masyarakat. Teori dasar tentang individualisme sangatlah sederhana: manusia selalu melihat sesuatu dari kaca matanya sendiri.

Sehingga tidak ada yang salah dari seseorang tersebut yang dikatakan individu. Justru masyarakat akan sangat beruntung oleh individu-individu yang matang, dan dewasa serta siap untuk membentuk dirinya untuk menjadi masyarakat yang harmonis dan mandiri. Bukan sebaliknya, masyarakat yang hanya patuh oleh seseorang—bisa ayah, pemimpin politik, ketua geng, atau sejenisnya—yang memaksakan kehendak pribadi dalam menentukan berbagai hal dalam kehidupan.

Egoisme dalam Masyarakat
Kita akan menemukan bagaimana masyarakat akan benar-benar menyadari bahwa mereka salah dalam menginterpretasikan makna individualisme. Contoh yang sehari-hari kita temukan adalah bagaimana penjual makanan (dengan cara delivery order) melakukannya atas dasar untuk melayani pelanggan. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah dia melakukannya untul dirinya sendiri: mencari untung dari bisnisnya.

Hal lain juga kita temui adalah para anggota dewan yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat tetapi pada kenyataannya mereka melakukannya hanya untuk dirinya sendiri (atau golongan), yang menjadi berbagai kasus korupsi dan sejenisnya di mana-mana. Kita tidak bisa mengatakan bahwa hal ini benar—sebagai masyarakat. Tetapi, mereka tidak siap untuk menjadi dewasa.

Dari kenyataan yang sederhana di atas, kita bisamenyimpulkan bahwa apa yang terjadi di masyarakat adalah bagaimana seseorang (atau kelompok) memaksakan kehendaknya untuk kepentingan pihaknya sendiri. Hal inilah yang kemudian kita sebut sebagai egoisme. Dan konsepsi yang seperti ini tidak akan bisa berlangsung lama—walaupun pada kenyataannya memang mengakar daging pada pola pemikiran (mind set) manusia.

Dalam dunia sosial politik, konsepsi tentang egoisme ini kita temui pada beberapa negara yang menganut faham komunisme, seperti yang paling populer adalah Lenin di Uni Sovyet, Mao di Cina. Mereka berdalih untuk menciptakan “manusia baru” yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi orang banyak. Pada kenyataannya, sekalipun masyarakat pada saat itu patuh akan teori ini, dan Buku Merah di Cina, tetapi negara-negara tersebut mengalami kehancuran atau mungkin mengalami keterbelakangan perkembangan.

Individualisme: Kebebasan yang Terbatas
Dalam konsepsi individualisme, seseorang melakukan sesuatu dengan bebas. Oleh karena itu, sebuah negara seharusnya menjamin kebebasan tersebut: hidup, berbicara, dan mencintai. Semua itu dilakukan untuk kebaikannya sendiri dalam rangka mempersiapkan dirinya untuk menjadi bagian dalam masyarakat.

Apakah kebebasan tersebut adalah hal yang buruk? Analogi sederhana tentang teori kebebasan dalam individu akan berhenti tatkala kebebasan tersebut mulai mengancam keberadaan orang lain (dlam hal ini yang berbahaya atau merugikan), maka di situlah batasan sebuah kebebasan. Sehingga ketika kebebasan itu dilakukan dalam konteks yang benar dan menghargai pihak lain, maka kebebasana itu sah-sah saja.

Sebuah contoh yang sangat sederhana adalah bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara. Namun, ketika ia berbicara (dengan keras) ketika dia berada di perpusatakaan, maka apa yang menjadi kebebasan tersebut telah mengganggu orang lain—dan kita tidak bisa mengatakannya sebagai kebebasan lagi.

Ketika masyarakat menginginkan kehidupan yang penuh keharmonisan, maka yang dibutuhkan adalah bukanlah mereka yang begitu idelais dalam menilai suatu individu. Tetapi, apa yang dibutuhkan adalah para individu-individu yang dewasa, dan mempunyai pandangan yang maju dan siap untuk membentuk suatu masyarakat yang harmonis.

Copyright © 2009 - guk sueb - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template