Salah seorang tua bingung entah ingin menyekolahkan anaknya ke mana lantaran biaya sekolah yang sangat tinggi. Orang tua lainnya menggerutu: “Katanya pendidikan gratis, kok masih mahal?!” Dan ternyata, hal itu dirasakan sebagian besar orang tua.
Biaya pendidikan yang tinggi tidak lain adalah kesalahan sistem. Jika kita merujuk pada konstitusi, negara sudah seharusnya mencerdaskan bangsa, dalam arti lain menjamin pendidikan yang layak bagi masyarakat. Selain itu, masyarakat tentu masih ingat program pemerintah yang membebaskan biaya bagi sekolah dasar dan menengah negeri.
Sebagaimana kita ketahui, misalkan, biaya pendidikan di awal tahun untuk sekolah dasar negeri di Kota Malang saja saat ini mencapai angka kisaran 5 juta. Bisa dibayangkan berapa biaya untuk pendidikan tingkat lanjut atau pendidikan tinggi. Seolah bagi masyarakat sudah biasa bahwa pendidikan itu mahal.
Penarikan biaya itu memang bukan lagi semata biaya bulanan yang selama ini kita ketahui. Dengan berbagai dalih semacam program sekolah bertaraf internasional, program ekskul, komite sekolah, buku bacaan yang berganti-ganti dan bervariasi, hingga program pelatihan-pelatihan lainnya, pihak sekolah dapat menarik biaya yang besar kepada orang tua siswa baru.
Kehadiran sekolah-sekolah bertaraf internasional semakin menunjukkan wajah kapitalisme di dunia pendidikan kita. Yang aneh, di tiap sekolah angka penarikan itu berbeda-beda, walaupun sesama sekolah negeri.
Ada kesalahkaprahan dalam sistem pendidikan kita. Di satu lain, pemerintah menggembor-gemborkan pendidikan gratis entah melalui program dari Departemen Pendidikan Nasional atau janji-janji para calon kepala daerah. Di sisi lain, pemerintah seakan tidak menahu atas berbagai macam penarikan biaya yang mahal di sekolah-sekolah. Dengan dalih apapun, penarikan demikian tentu akan semakin memiskinkan masyarakat.
Pemerintah semestinya lebih sigap dalam memahami kasus demikian. Hal ini mencakup kesejahteraan masyarakat serta masa depan negara. Pemerintah harus memberi batasan yang jelas atas penarikan biaya di dunia pendidikan. Jika suatu sekolah berdalih program SBI membutuhkan biaya yang besar, namun pada kenyataannya SBI hanyalah merupakan kastanisasi pendidikan. Yang ujung-ujungnya adalah biaya yang tinggi yang tidak dibarengi dengan pemerataan pendidikan.
Jika demikian kenyataannya, semakin banyak masyarakat yang tak dapat mengenyam pendidikan. Persoalan yang dihadapi bukanlah mahalnya harga sembako saja, melainkan mahalnya pendidikan. Lantas, masih adakah sekolah gratis di negeri ini?
Di musim libur gini, saya mendapati sebuah SMS dari seorang teman. Intinya sama saja, seputar kehidupan yang penuh dengan tuntutan dan tekanan. Efeknya ya sama saja, membuka batin sekaligus menampar diri. Akhirnya saya putuskan saja untuk saling berbagi SMS itu kepada teman-teman yang lainnya di hari libur ini.
Tetapi, entah apakah bulan Juli masih cocok disebut musim libur atau enggak karena selama bulan Juli ini nanti bakalan saya habisin ngurusi kegiatan di kampus terus. “Ah, itu mah derita elo kale...!” teriakan itu keluar begitu saja dari hati nurani, seperti biasa.
Makin digosok, (tidak selalu) makin sip
Saya senang bekerja di kampus. begitu pun orang-orang di luar sana suka dengan pekerjaannya, entah terpaksa tuntutan hidup, tekanan si bos, atau memang panggilan jiwa. Bekerja adalah sebuah kenikmatan tersendiri, seperti halnya masturbasi—makin digosok, makin sip. Yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan kita disibukkan dengan kesenangan itu?
Kesenangan ada batasnya. Pekerjaan pun demikian. Ketika pekerjaan semakin memperbudak kita, yang terjadi kita semakin terkungkung dengan pekerjaan itu. Pada ujungnya, kita justru tidak menemukan kebahagiaan dan kesenangan dari aktivitas ini. Yang terjadi yaa...tekanan semakin membabi buta. Terlebih tekanan ini terjadi di hari libur.
Manusia tidak lain hanyalah robot-robot, yang berakal, yang sama-sama punya batasan pula. Bedanya manusia tidak dapat di-recharge dengan instan sebagaimana mie rebus yang cukup dicemplungin air panas dan siap dimakan. Manusia butuh berbagai faktor pendukung lain untuk belajar, sekadar menjadi kembali bergairah.
Ada kala, manusia berkilah toh nanti bisa refreshing lewat liburan dengan orang yang kita cintai di hari libur. Tapi, saat ini esensi dari liburan tak lagi untuk benar-benar mengembalikan ide yang mulai aus, melainkan sekadar membayar “hutang” karena telah sekian hari kita telah selingkuh dengan kesibukan pekerjaan—atau selingkuh dalam arti yang sebenarnya.
Kita mungkin memang menyadari, bekerja tak selamanya menjadi tuan bagi kita. Sekali lagi, kenikmatan ada batasnya. Tidak selamanya pekerjaan yang digebu-gebu semakin menghasilkan nilai positif; sebagaimana masturbasi—(ternyata) makin digosok tidak selalu makin sip, yang ada malah kesakitan.
Malas
Paling tidak, isi dari SMS salah seorang teman tadi mengingatkan pada kehidupan saya sendiri: saya juga penuh dengan tuntutan dan tekaan hidup, lahir batin malahan. Yaa...paling tidak sebenarnya ingin pamer ke teman saya balik kalau dia itu enggak sendiri.
Ketika semua tekanan itu mengampiri dan menagih seperti rentenair hutang di desa-desa, saya justru semakin susah nentukan mana yang musti dilakukan dan diprioritaskan.
Sekalipun hidup memang tentang prioritaskan suatu pilihan. Tapi itu semua bakal jadi ucapan pemanis saja tatkala prioritas yang satu, akan menghancurkan lainnya. Masih ada lagi, hidup itu emang butuh pengorbanan. Ya, itu juga bakal jadi bumbu penyedap biar kita memang terus mau bekerja keras, dan menjadi budak pekerjaan lagi.
Jika demikian, saya lebih memilih untuk bermalasan saja sambil jalan kaki di pagi hari, di jam kerja, sekitar tempat tinggal—di sekitar kantor kalau bisa, sesekali menyapa bos dengan sanyum sarkastik juga disarankan.
Malas bukan untuk lari dari menyelesaikan kerjaan, tetapi malas untuk menikmati pemandangan lucu: melihat orang lain yang juga senasib, menjadi babu pekerjaan, tuntutan, dan tekanan. Ada kalanya ini mungkin disebut sebuah liburan yang unik karena menyadari bahwa diri ini memang benar-benar tidak sendiri hidup dengan tekanan “kebahagiaan” kerja.
Banyak orang lain di jalan sana yang hidup penuh tekanan (juga). Kita sih mending menyebut kerjaan sebagai hal yang menyenangkan, mereka terkadang bahkan tidak dapat menemukan arti kebahagiaan itu sendiri, apalagi menikmati kerjaan, atau bahkan menyempatkan diri sambat ke teman melalui SMS pula.
Memang, di saat tekanan sedang memuncak, manusia membutuhkan suatu momen untuk bermalasan. Malas, bukan tidak ada alasan. Ada sisi positif dari bermalasan, terkadang kita bisa melihat dunia kita sendiri yang penuh kegilaan dan tekanan from out of the box: dari perpektif kemalasan. Lucu!
Yang pasti akan memberikan suatu kesimpulan singkat kalau saya memang tidak bisa diperbudak oleh kerjaan, sekalipun itu kesenangan. Kita memang perlu untuk meninggalkan sejenak, bermalasan untuk melihat sisi lain dari kesenangan yang kita miliki.
Sekumpulan mahasiswa sedang duduk di bawah sebuah pohon yang lumayan rindang, mengobrol satu sama lain dengan nada yang santai. Di sela-sela obrolannya, terceletuk sebuah ungkapan yang familiar di telinga masyarakat kita: janganlah tertawa di atas penderitaan orang lain.
Terlepas dari nilai tenggang rasa, sebuah pertanyaan pun terlintas: apakah memang benar tertawa sebagai simbol kebahagiaan itu dilarang hanya karena ada kesedihan?
Saya yakin, Tuhan memang adil dalam menciptakan suatu hal, dalam hal ini, Tuhan memang telah menciptakan kebahagiaan dan kesedihan. Entah dalam hal yang mana keadilan dua hal itu, namun kita bisa mengasumsikan adil di sini mungkin dalam hal proporsi kedua hal itu. Sehingga, bagaimanapun juga kedua hal itu akan selalu ada, sebagaimana sifat Tuhan yang memang kekal dan adil.
Namun, jika kita tidak dapat bahagia hanya karena ada kesedihan maka hal ini akan membuat kehidupan ini menjadi satir, dan tidak akan berujung pada kebahagiaan bersama melainkan berujung pada kehidupan yang penuh dengan kesedihan dan hilangnya kebahagiaan dari kehidupan ini. Lantas, bagaimana kita seharusnya menyikapi kedua hal ciptaan Tuhan yang adil itu?
Dapat dianalogikan bahwa manusia bahagia itu tidak selamanya karena dia “mencuri” kebahagiaan dari orang lain. Atau sebaliknya, seseorang sedih pun bukan berarti kebahagiaannya telah “dicuri” oleh orang lain yang bahagia.
Jadi ketika Anda berbahagia, berbahagialah. Bagi yang belum bahagia, berusahalah menciptakan kebahagiaan, tanpa harus “mencuri” dari orang lain tentunya. Kalau bisa, bersama-sama berbahagialah dan menghapus kesedihan dari kamus kehidupan.
Penghapusan kesedihan dari kehidupan ini tentu tidak akan mengancam sifat Tuhan yang adil ataupun yang mahakekal. Tuhan pasti paham. Tuhan sudah bahagia, dan Tuhan tidak akan bersikukuh “mencuri” kebahagiaan yang telah Anda ciptakan hanya untuk sekadar membahagiaan diri-Nya sendiri.

Fenomena yang ada saat ini adalah euforia masyarakat terhadap seni tontonan sangat tinggi. Seni tontonan dapat berupa bagaimana seni musik melalui konser, hingga dunia perfilman. Sebagai seni tontonan, film merupakan seni tontonan yang berkembang sangat pesat di dunia hiburan. Seiring dengan perkembangannya, film juga semakin luas dalam hal fungsi dan esensinya. Ketika pada awalnya film digunakan (hanya) sebagai seni tontonan dan hiburan, dewasa ini film berkembang menjadi media seni yang mampu mentransformasi nilai-nilai kemanusiaan, religi, pendidikan, hingga tentang nasionalisme.
Dalam kaitannya dengan nilai-nilai nasionalisme, film mampu memberikan sebuah stimulus kepada masyarakat akan pentingnya rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Stimulus itu tersampaikan melalui nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, baik secara eksplisit maupun implisit.
Nilai-nilai nasionalisme dapat berupa bagaimana cinta kita terhadap negeri ini dalam aspek pendidikan, menghargai pahlawan, sosial budaya, hingga politik. Dengan pesan-pesan yang disampaikan dari berbagai aspek diharapkan kita mempunyai inspirasi untuk lebih mencintai negeri ini dengan cara yang kita pahami dan dalami di berbagai aspek.
Nagabonar jadi 2
Sebuah film epik yang mampu memadahi semua aspek yang dibutuhkan seorang individu maupun sekelompok masyarakat. Film Nagabonar jadi 2 ini mengandung nilai-nilai nasionalisme yang tinggi. Nilai-nilai yang tinggi ini mampu disampaikan dengan sangat ringan dengan diselingi bumbu-bumbu jenaka hingga kehidupan keluarga.
Misalkan fenomena bagaimana Bonaga begitu yakin menggagalkan kerja samanya dengan bangsa asing dalam mengembangkan sumber daya alamnya. Atau ketika Nagabonar menyindir dengan prestasi sepak bola kita yang tidak bagus lantaran tidak adanya lahan untuk bermain sepak bola karena berkembangnya bisnis properti macam perumahan-perumahan, atau sejenisnya. Adegan-adegan seperti ini merupakan sebua pesan yang ringan dan sangat mudah untuk diterima dengan nilai yang sangat dalam ketika kita mampu memaknainya lebih jauh.
Hingga pada puncaknya, rasa nasionalisme terhadap pahlawan ditunjukkan dengan bagaimana Nagabonar dengan beraninya memanjat patung Jendral Soedirman untuk menurunkan hormatnya—karena yang seharusnya hormat adalah kita, bukan Jendral Soedirman. Sekalipun kita layak untuk mendapatkan hormat itu jika dan hanya jika kita mampu memberikan sumbangsih kita bangsa paling tidak setara dengan bagaimana perjuangan Jendral Soedirman kala itu dalam perang kemerdekaan.
Masih banyak pesan-pesan yang disampaikan di dalam film ini yang mampu menumbuhkan kemlai rasa nasionalisme kita. Pesan-pesan sejenis dapat kita dapatkan pula pada film Denias hingga Laskar Pelangi baru-baru ini. Di dalam film-film itu, kita bisa menjumpai bagaimana generasi bangsa berjuang untuk menjadi bangsa yang baik dengan terus berusaha keras dalam meraih pendidikan.
Ironisnya, film-film nasional yang berkembang saat ini bagitu didominasi dengan tema-tema kenakalan remaja, horror, hingga humor saja. Jika ada film yang bertemakan sains fiksi, patriotisme, sosial, dan sebagainya datang dari dunia Barat, yang justru akan membuat seni-seni nasional kita tidak mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Kembali lagi ditekankan bahwa nasionalisme merupakan sebuah kebutuhan mutlak dari sebuah masyarakat dalam sebuah Negara untuk menciptakan persatuan dan kesatuan yang kokoh. Seyognya, film-film dengan tema nasionalisme seperti inilah yang harus terus dikembangkan. Dengan demikian, adalah kewajiban kita sebagai masyarakat yang beradab dan berbudaya untuk terus menciptakan karya-karya seni yang mampu menumbuhkan rasa nasionalisme.
*) dipublikasikan oleh majalah KOMUNIKASI UM edisi Desember 2009
This is an Easy Assignment: Journal Writing to Developing Self-Assessment
Posted by Guk Sueb Labels: EducationMany students have problem regarding their score in academic. Thus, it is difficult to know how well the students achieve their academic
Despite of their spending time at school, it is very great to find a sollution how to help them to measure their achievements in terms of developing their self-assessment through what they’ve done at school without decreasing thir time to do the assignment that they should do.
What the students need regarding how to measure their achievement is how they know themselves as the object of their “observation”. Means that they should involve what they will do reflected to what they have done in the past. To do that, it is nor easy way due to the hard work from school for being done at home by the students.
For solving and combining those (hard) work and how teh students to be measured their achievements, we may use journal writing as an easy assignment to help them measuring their achievements, at the same they can do their work from school.
Journal Writing: Easy without Fear of Risk
Why journal writing as an easy asignment? The answer is that writing journal, like diary in specific term, is when the students write anything they want involving/relating to themselves as the object of the topic of what they are writing about.
In short, when they to be writing themselves, they are as the writer wich is writing without fear of risk. This is because, basically, noone deserves to judge their writing unless the students don’t allow somebody—here the teachers or their friends.
To optimalize this assignment, as a regard of academic activity, teacher just should make direction how the writing should be made: of course related to what the material or subjects that have been discussed. Thus, it will help them to remember and keep in mind what they have been doing.
By involving themselves as the object of what their writing, like what have been stated before, this kind of assignment is helful toward the students to know where is the weakness (that should be improved) and the strength (that should be kept and developed).
In summary, it can be a sollution to be a tool do develop the students’ ability on measuring their achievements, especially related to their academic and also their life.

Ada yang aneh dengan sistem di negeri ini, di saat pemerintah menggembor-gemborkan untuk memberantas pungutan liar (pungli), justru beberapa sistem di aparatur negara terdapat ketimpangan yang akan mengarah pada aksi pungli tersebut.
Ambil contoh di Kabupaten Sidoarjo. Di Kota Udang tersebut, terdapat sebuah Peraturan Daerah bagi seluruh pengguna kendaraan bermotor untuk dikenakan biaya parkir berlangganan, baik bagi kendaraan roda dua atau empat atau lebih. Penarikan ini, dikenakan setahun sekali tepatnya pada saat proses pembayaran pajak kendaraan di Kantor Samsat sebesar Rp 25.000,00 per kendaraan (roda dua).
Telisik demi telisik, pihak kepolisian merasa tidak menahu tentang tarikan biaya parkir berlangganan ini (sekalipun pembayaran biaya parkir dilakukan di kantor Samsat) karena memang urusan parkir berlangganan berada di bawah naungan Dinas Perhubungan (Dishub). Pun demikian, Dishub pula tidak menahu tentang peraturan tersebut. Mereka hanya menkonfirmasi bahwa semua itu telah ditetukan oleh pihak DPRD kota di dalam Peraturan Daerah No.1 Tahun 2006, Kabupaten Sidoarjo.
Di dalam Perda tersebut, diatur terkait sistem parkir berlangganan di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Parkir berlangganan berlaku hanya pada kawasan-kawasan tertentu, yang terdapat tanda parkir berlangganan di sepanjang kota Sidoarjo, di antaranya kawasan kompleks GOR Delta Sidoarjo, Alun-alun Kota Sidoarjo, Pasar besar di kawasan Jalan Gajahmada, dan sebagainya.
Anehnya, semua daerah-daerah tersebut hanya berlokasi di kawasan kota Sidoarjo saja (Kecamatan Sidoarjo). Padahal pada kenyataannya Kabupaten Sidoarjo itu sendiri terdiri dari sekitar 15 kecamatan yang tersebar dari ujung paling selatan (Kecamatan Jabon) hingga Kecamatan Krian. Pertanyaannya adalah, apakah Kabupaten Sidoarjo itu hanya berada di kawasan kota saja? Mengingat Perda parkir berlangganan tersebut berlaku bagi seluruh pangguna kendaraan bermotor di daerah kabupaten Sidoarjo tanpa terkecuali.
Lebih parahnya, tidak ada realisasi dari Perda tersebut. Alih-alih merealisasikan Perda, pihak pemerintah hanya memasang papan tanda bertuliskan "KAWASAN PARKIR BERLANGGANAN" di beberapa titik di kawasan yang telah ditentukan. Hasilnya? Para juru parkir (jukir) masih berkeliaran di mana-mana, termasuk di kawasan-kawasan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Bahkan, mereka memasang karcis dan menarik biaya parkir kepada setiap pengguna motor yang memarkirkan kendaraan.
Kaji Ulang Perda "Liar"
Jika memang peraturan-peraturan daerah seperti ini dibiarkan eksis dan direalisasikan alakadarnya, tanpa adanya pengawasan yang ketat, tentu hal ini akan sangat merugikan masyarakat (yang ujung-ujungnya akan menguntungkan pembuat undang-undang). Kerugian yang diterima masyarakat tidak hanya dari segi finansial, tetapi juga di bidang kepercayaan masyarakat akan kinerja pemerintah.
Pada kasus seperti ini, masyarakat mulai merasakan keganjilan yang terjadi dalam perundangan pemerintahan daerah ini. Walaupun sejauh ini ditengarahi (hanya) pada satu aspek saja, tentang pengaturan sistem parkir berlangganan di kawasan-kawasan tertentu, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa akan ditemukan berbagai macam keganjilan atas Perda-Perda yang ada di daerah tertentu, tidak hanya di Kabupatn Sidoarjo.
Melihat relevansi dari Perda yang demikian,maka sudah saatnya pemerintah harus mengkaji ulang beberapa Perda yang dinilai tidak logis dalam realisasinya, baik dari segi urgensi maupun efektivitas. Dengan langkah demikian akan mengurang aksi korupsi yang melibatkan pungli yang bersembunyi di balik sistem birokasi.
Teringat dengan seseorang di organisasiku, dia berkata ketika seleksi perekrutan anggota baru: pada intinya, kamu nanti ikut di organisasi ini sebagai seroang pemikir dengan ide-ide dan kreativitasmu atau kamu ingin menjadi anggota yang suka bekerja? Sebuah pertanyaan yang sulit bagi seorang yang baru mengetahui sebuah organisasi.
Pertanyaan itu adalah benar dilihat dari bagaimana tipe organisator, di mana setiap individu mempunyai karakter sendiri-sendiri dan kemampuan sendiri. Sehingga, urgensi untuk menjawab pertanyaan itu menjadi sebuah keharusan karena dalam hal ini seorang pemimpin dan orang-orang di dalamnya bisa mengerti di mana akan meletakkan individu tersebut.
Organisasi adalah sebuah sistem
Dari pengertian dasar sebuah organisasi, adalah sekumpulan individu yang mempunyai tujuan yang sama. Namun, pada kenyataannya, sebuah organisasi tidak hanya sekumpulan individu-individu saja. Kita tidak bisa menganggap penumpang di bus sebagai sebuah organisasi.
Di sisi lain, kita bisa mengatakan keluarga adalah sebuah organisasi. Kenapa? Hal yang membedakan antara kumpulan individu-individu ini adalah sistem. Dikatakan sebagai sistem, organisasi terdiri dari berbagai elemen di mana setiap elemen di dalamnya mampu bekerja saling terkait dan mendukung.
Tidak hanya saling berhubungan dan saling mendukung, sistem yang berlaku di dalam organisasi itu mempunyai tujuan yang sama. Sekalipun tujuan itu banyak, sebuah organisasi mempunyai sebuah kebijakan (dibuat oleh pemimpin atau stakeholder organisasi tersebut) untuk melakukan skala prioritas dalam menentukan tujuan.
Sebuah sistem tidak harus selamanya sama dan saling sejalan. Sebuah sistem yang bagus adalah di mana di dalamnya terdapat adanya mekanisme yang sangat variatif dan mengerucut dalam satu tujuan. Tidak selamanya sama: di dalam sebuah sisrem terdapat aspek pengontrol yang akan menentukan path sebuah organisasi untuk mencapai tujuannya dengan baik.
Pekerja atau Pemikir?
Jika sistem dianalogikan dengan metabolisme tubuh, maka setiap elemen di dalam tubuh bekerja dengan tepat dan saling terkait. Hal ini karena dikontrol oleh sebuah “pemikir” yakni otak dan para “pekerja” pada organ tubuh yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri.
Hal demikian juga ditemukan di dalam organisasi pada umumnya yang terdiri dari para mahasiswa ataupun para aktivis lainnya. Ketika sebuah organisasi terdiri dari sua aspek tersebut maka organisasi bisa dikatakan sebagai sebuah sistem yang baik. Sehingga tidak ada yang salah dengan adanya pilihan individu untuk menjadi seorang pemikir atau pekerja dalam sebuah organisasi.
Eksistensi dua aspek tersebut akan memaksimalkan sebuah organisasi. Optimalisasi sebuah organisasi tersebut digunakan dengan menggunakan suatu inovasi melalui analisa elemen-elemen yang terdapat di dalam organisasi tersebut.
Bagaimana dengan mereka yang berada di tengah-tengah antara pemikir dan pekerja? Ada dua kemungkinan, apakah dia adalah mempunyai idealisme akan apa yang dia miliki yakni menjadi aktivis yang menggabungkan antara berfikir dan bekerja. Di sisi lain, seseorang yang mempunyai idealisme untuk menjadi aktivis dengan tanpa memiliki kemampuan berfikir dan bekerja: pada kebanyakan kasus dan kenyataan, masyarakat lebih memilih individu yang demikian sebagai “pengikut” kebijakan, karena eksistensinya bergantunga dari apa yang menjadi euforia di dalam organisasi tersebut.
Bagaimanapun sebuah organisasi, peran para pemikir dan pekerja haruslah mampu membentuk sebuah sistem yang baik. Hal ini akan kembali dengan tujuan dari sebuah organisasi itu sendiri: menjadi lebih baik.
Teringat dengan seseorang di organisasiku, dia berkata ketika seleksi perekrutan anggota baru: pada intinya, kamu nanti ikut di organisasi ini sebagai seroang pemikir dengan ide-ide dan kreativitasmu atau kamu ingin menjadi anggota yang suka bekerja? Sebuah pertanyaan yang sulit bagi seorang yang baru mengetahui sebuah organisasi.
Pertanyaan itu adalah benar dilihat dari bagaimana tipe organisator, di mana setiap individu mempunyai karakter sendiri-sendiri dan kemampuan sendiri. Sehingga, urgensi untuk menjawab pertanyaan itu menjadi sebuah keharusan karena dalam hal ini seorang pemimpin dan orang-orang di dalamnya bisa mengerti di mana akan meletakkan individu tersebut.
Organisasi adalah sebuah sistem
Dari pengertian dasar sebuah organisasi, adalah sekumpulan individu yang mempunyai tujuan yang sama. Namun, pada kenyataannya, sebuah organisasi tidak hanya sekumpulan individu-individu saja. Kita tidak bisa menganggap penumpang di bus sebagai sebuah organisasi.
Di sisi lain, kita bisa mengatakan keluarga adalah sebuah organisasi. Kenapa? Hal yang membedakan antara kumpulan individu-individu ini adalah sistem. Dikatakan sebagai sistem, organisasi terdiri dari berbagai elemen di mana setiap elemen di dalamnya mampu bekerja saling terkait dan mendukung.
Tidak hanya saling berhubungan dan saling mendukung, sistem yang berlaku di dalam organisasi itu mempunyai tujuan yang sama. Sekalipun tujuan itu banyak, sebuah organisasi mempunyai sebuah kebijakan (dibuat oleh pemimpin atau stakeholder organisasi tersebut) untuk melakukan skala prioritas dalam menentukan tujuan.
Sebuah sistem tidak harus selamanya sama dan saling sejalan. Sebuah sistem yang bagus adalah di mana di dalamnya terdapat adanya mekanisme yang sangat variatif dan mengerucut dalam satu tujuan. Tidak selamanya sama: di dalam sebuah sisrem terdapat aspek pengontrol yang akan menentukan path sebuah organisasi untuk mencapai tujuannya dengan baik.
Pekerja atau Pemikir?
Jika sistem dianalogikan dengan metabolisme tubuh, maka setiap elemen di dalam tubuh bekerja dengan tepat dan saling terkait. Hal ini karena dikontrol oleh sebuah “pemikir” yakni otak dan para “pekerja” pada organ tubuh yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri.
Hal demikian juga ditemukan di dalam organisasi pada umumnya yang terdiri dari para mahasiswa ataupun para aktivis lainnya. Ketika sebuah organisasi terdiri dari sua aspek tersebut maka organisasi bisa dikatakan sebagai sebuah sistem yang baik. Sehingga tidak ada yang salah dengan adanya pilihan individu untuk menjadi seorang pemikir atau pekerja dalam sebuah organisasi.
Eksistensi dua aspek tersebut akan memaksimalkan sebuah organisasi. Optimalisasi sebuah organisasi tersebut digunakan dengan menggunakan suatu inovasi melalui analisa elemen-elemen yang terdapat di dalam organisasi tersebut.
Bagaimana dengan mereka yang berada di tengah-tengah antara pemikir dan pekerja? Ada dua kemungkinan, apakah dia adalah mempunyai idealisme akan apa yang dia miliki yakni menjadi aktivis yang menggabungkan antara berfikir dan bekerja. Di sisi lain, seseorang yang mempunyai idealisme untuk menjadi aktivis dengan tanpa memiliki kemampuan berfikir dan bekerja: pada kebanyakan kasus dan kenyataan, masyarakat lebih memilih individu yang demikian sebagai “pengikut” kebijakan, karena eksistensinya bergantunga dari apa yang menjadi euforia di dalam organisasi tersebut.
Bagaimanapun sebuah organisasi, peran para pemikir dan pekerja haruslah mampu membentuk sebuah sistem yang baik. Hal ini akan kembali dengan tujuan dari sebuah organisasi itu sendiri: menjadi lebih baik.

Kepemimpinan merupakan sebuah hal yang “mudah” bagi masyarakat saat ini. Anda tinggal pergi ke sebuah toko buku, dan Anda akan menjumpai berbagai buku dengan tema kepemimpinan dengan berbagai langkah dan teori.
Jika dilihat dari teori sosiologi lama, kekuasaan (baca: kepemimpinan) pada dasarnya ada tiga: karismatik, tradisional, da birokrat. Sehingga dengan mentah, dimungkinkan, masyarakat pun mengartikan seorang pemimpin seharusnya mempunyai penampilan yang berkarisma. Kita akan terlalu panjang mencari contoh yang spesifik: Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang terbaru, merupakan contoh yang familiar di mata masyarakat saat ini tentang pentingnya seorang pemimpin yang karismatik.
Namun, menjadi pemimpin bukanlah merupakan hal yang mudah, semudah membalikkan halaman buku-buku kepemimpinan tersebut. Pun demikian, menjadi seorang pemimpin tidaklah sesuatu yang berat—menemukan karisma yang menurumayarakat adalah hal yang lahiriyah. Tetapi menjadi seorang pemimpin adalah bagaimana Anda menemukan diri Anda di antara para orang-orangnya Anda. Sehingga, bukanlah hal yang perlu diperdebatkan apakah harus menjadi seseorang yang karismatik untuk menjadi seorang pemimpin ataukah memandang bahwa karisma adalah hal yang bukan pasti dalam kepemimpinan.
Penampilan bukan Jaminan
Kita akan lebih tahu tentang kata bijak bahwa kita akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, hal ini memang benar jika kita mencari seorang jodoh atau yang lainnya. Namun, tidak semua seorang pemimpin harus mempunyai penampilan yang serba matching ataupun mempunyai sisiran rambut yang rapih. Tony Blayr, mantan Perdana Menteri Inggris, adalah salah satu seorang pemipin besar di tanah Britania yang seakan mengesampingkan ke mana rambutnya disisir.
Sekalipun penampilan bukanklah harga mati, tetapi bukanlah penampilan adalah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Perlu kita ingat adalah bukan sebagus apa baju yang kita kenakan, tetapi kapan kita memakai baju yang tepat di saat yang tepat.
Siapa yang Anda Pimpin?
Pepatah bilang, lain ladang lain belalang. Lain lubuk, lain ikan. Sekalipun hal ini tidak ada kaitannya dengan dunia perpolitikan, ataupun kepemimpinan, namun hal ini sedikit sedikit merefleksikan kita pada sikap kita—bagaimana kita besikap di suatu kalangan masyatakat yang plural.
Artinya dalam kaitannya dengan kepemimpinan adalah bahwa masyarakat yang berbeda membutuhkan perlakuan yang berbeda pula. Secara tidak langsung, membutuhkan gaya memimpin yang berbeda pula.
Sebagai contoh, salah satu pemimpin di negeri Pizza, Italia Berluconi (mungkin dari yang penggila sepak bola akan tahu ini) adalah salah satu pemimpin yang sangat disukai masyarakatnya, tidak peduli telah berapa kali Berlusconi melakukan kesalahan. Karena apa? Hal ini karena Berlusconi telah dianggap sebagai bagian dari masyarakat—atas kemampuanya dalam mengerti bagaimana karakter masyarakatnya.
Bertanggung Jawab
Seorang pemimpin adalah bukan seseorang yang bersembunyi setelah melakukan kesalahan. Seorang pemimpin haruslah seseorang yang dengan tegas mau menanggung konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan, baik berupa keputusanm tindakan hingga kebijakan yang menyangkut hajat orang banyak.
Kita tidak perlu membahas hal ini lebih jauh karena pada dasarnya semua orang akan mengerti bahwa sebagus apapun seorang pemimpin tetapi jika ia tidak punya rasa tanggung jawab, sama halnya ia tidak mempunyai jiwa kepemimpinan yang bagus. Sehingga, memang bertanggung jawab adalah modal dasar ketika individu menjadi seorang pemimpin.
Tidak Harus Orator yang Bagus
Jika disimpulkan dengan mentah, di dunia kampus mahasiswa lebih sering menghubungkan kepemimpinan (baca: perpolitikan organisasi) dengan bagaimana kemampuannya berorasi. Benarkah kemampuan berorasi adalah jaminan seorang adalah pemimpin yang besar/berkarisma?
Hal ini bukanlah hal yang pasti. Orasi yang bagus, mungkin akan membuat Anda dikenal oleh masyarakat luas. ITU saja. Tetapi menjadi seorang pemimpin tidaklah hanya sebatas bagaimana Anda diketahui oleh masyarakat atas kemampuan Anda dalam merorasi, melainkan lebih dari itu: action is more than words.
Jika boleh menyimpulkan, seorang pemimpin memang membutuhkan sebuah karisma dalam memimpin. Mereka seakan telah dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun, bukan berarti mereka yang tidak ditakdirkan memiliki karisma? Dengan melakukan apa yang telah diuraikan di atas, maka secara tidak langsung karisma seorang akan terbentuk dengan sendirinya—dan ia menjadi seorang pemimpin yang besar.
Pemilu presiden telah masuk hitungan jari dari pelaksanaannya 8 Juli mendatang. Berbagai macam suksesi dilakukan oleh para pasangan capres dan cawapres serta para tim sukses masing-masing pasangan tersebut pada Pilpres 2009 kali ini.
Di beberapa media, pada awal-awal pengumuman nama-nama pasangan capres dan cawapres, disebutkan bahwa pasangan-pasangan tersebut mempunyai kekhasan yang unik. Hal ini dilihat dari bagaimana proses persetujuan koalisi pasangan tersebut dan sepakat untuk berpasangan untuk maju pada Pilpres 2009 nantinya.
Dimulai dari pasangan Mega-Prabowo yang dieluh-eluhkan sebagai pasangan kawin paksa karena memang tidak ada pilihan lain bagi Mega untuk mencari pendampingnya menuju Istana selain menggaet Prabowo pada Pilpres 2009 kali ini.
SBY-Budiono juga dikatakan sebagai pasangan kawin tanpa restu karena dengan mengejutkan SBY menjatuhkan pilihan kepada guru besar UGM bidang ekonomi ini. Sekalipun menimbulkan perdebatan di kalangan koalisi, namun pilihan SBY bukan tanpa alasan. Dengan posisi Budiono yang netral dan bertangan dingin dalam bidang ekonomi, agaknya Budiono menjadi the Right Man at the Right Time melihat kebutuhan bangsa ini dalam menghadapi krisis global yang masih menghantui negara-negara di dunia.
Di nomor ketiga, JK-Wiranto dipandang sebagai pasangan suci. Hal ini dengan pertimbangan mulusnya proses pasangan tersebut dalam mendapatkan kesepakatan bersama menuju Pilpres 2009. Sekalipun Wiranto mempunyai pengalaman pahit ketika dirinya masih menjadi bagian dari Partai Golkar pada Piplras 2004 silam, dia mencoba menutupinya untuk saat ini demi berpartisipasi dalam Pilpres kali ini.
Kawin Kontrak
Melihat keunikan tersebut, masyarakat justru akan semakin dipusingkan dengan tingkah laku para kontestan Pilpres 2009 kali ini. Namun, tanpa merendahkan misi visi yang dibawakan dan alasan yang melatarbelakangi para pasangan tersebut, justru pasangan capres dan cawapres terebut mempunyai kesamaan yang jelas dalam melakukan koalisi: Kawin Kontrak.
Dari keenam tokoh bangsa itu, mereka pernah terlibat dalam pemerintahan yang sama, baik sebagai rekan hingga bawahan. Artinya mereka seharusnya melakukan agenda tersebut dengan sangat baik. Namun, dengan sangat ironi mereka saat ini “bercerai” dengan membawa idealisme masing-masing untuk memimpin negeri ini. Mereka pun saling berkompetisi untuk menuju Instana seakan lupa dengan “akad” yang mereka tasbihkan beberapa tahun silam.
Jika memang apa yang lakukan saat ini adalah benar sebagai bentuk halus dari sekadar teken kontrak antar sesama koalisi, dan tidak diimbangi dengan misi dan visi kepemimpinan mereka dengan rakyat, maka pemerintahan akan tetap tidak berubah dari orde baru belasan tahun silam. Karena kenyataannya praktik kawin kontrak ini seakan juga terjadi hingga pengurus di tubuh partai.
Ketika masyarakat mulai bisa menilai atas perilaku para politisi yang hanya menggunakan pemilu, yang seharusnya menjadi pesta rakyat dan hanya dinikmati oleh segelintir politisi yang berkepentingan, maka degradasi kepercayaan masyarakatlah yang akan terjadi pada pemilu yang akan datang, atau Pilpres 2009 8 Juli mendatang.
Krisis Kepercayaan
Kembali pada bagaimana kawin kontrak pun terjadi di panggung perpolitikan negeri ini, dan melihat fenomena dan stigma tentang kawin kontrak di masyarakat, hal ini pasti tidak lebih baik dari sekadar kawin suci, kawin paksa, ataupun yang tanpa restu (atau back street dalam bahasa gaulnya). Jika hal ini terus subur berkembang dan tidak dikuak atas kejelasan latar belakang koalisi, maka ancaman golput akan terjadi.
Hal ini kemungkinan akan mementahkan prediksi para pakar politik bahwa pada Pilpres 2009, jumlah golput akan lebih sedikit, sekalipun angka golput pada Pemilu Legislatif kemarin besar.
Sekalipun berbagai cara dari mengumbar janji di iklan TV, hingga orasi di berbagai kota, masyarakat tidak bodoh dalam menerima pesan tersebut mentah-mentah. Jika memang para pasangan capres dan cawapres (dan para pihak-pihak yang terlibat di belakangnya) menyadari akan krisis kepercyaan masyarakat terhadap perpolitikan ini maka mereka harus tanggap dalam menjawab apa yang sebenarnya diinginkan oleh bangsa ini, bukan kepentingan golongan.
Perubahan yang terjadi di Indonesia saat ini adalah salah satu perkembangan yang menarik perhatian dalam dunia Muslim di dunia. Transisi negeri dari autoritarianisme telah membuktikan bahwa sebagai demokrasi, Indonesia mampu secara kebudayaan bergerak dengan cepat dan secara ekonomi sukses besar.
Sejak kemenangannya sebagai presiden pada tahun 2004, Susilo Bambang Yudhoyono telah mengatur untuk menjaga negara lepas dari utang, bahkan selama resesi ekonomi global baru-baru ini. Bagaimanapun, tantangan yang besar pun menanti di depan. Kemiskinan masih terus terjadi di mana-mana di Indonesia, dan pemerintahan harus menekan ke depan lebih tegas dengan perbaikan-perbaikan terhadap kegagalan dalam melaksanakan berbagai infrastruktur. Perekonomian dihadapkan dengan sebuah peraturan yang pilihan yang rumit, dan negara mengalami korupsi yang besar dan penyuapan.
Pemilihan presiden yang akan datang menjanjikan kebaikan untuk Yodhoyono, 59, terima kasih untuk tidak sedikit pada keberhasilannya dalam merealisasikan janji-janjinya. Sejarah demokrasi Indonesia tidak begitu panjang, tetapi hal ini telah jauh menunjukkan bahwa warga negara Indonesia tidak akan memilih kembali seorang presiden yang memberikan harapan yang kecil.
Saat yang tepat bagi Indonesia, sebagai negara dengan populasi masyarakat Muslim terbesar di dunia, untuk memulai bergerak dalam posisi yang tepat di Asia dan di negara-negara Muslim di dunia. Sebagai respon terhadap sikap hangat Presiden Obama kepada negara-negara Muslim untuk fase baru dalam hubungannya dengan AS, Yudhoyono mampu memimpin dan merencanakan sebuah pembelajaran baru terhadap bangsa itu.
by Robert Frost
Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.
Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau obyek penelitian.
Di kalangan masyarakat, wayang adalah bukan hal yang asing. Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini. Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, berbagai unsur seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.
Filsafat pewayangan membuat masyarakat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono dalam Mulyana: 2008). Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi. Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan.
Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial. Dalam hal ini telah jelas, sebagai manusia yang berbudaya, bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi.
Bagi kelangsungan eksistensi wayang ini, paling tidak, ada tiga hal yang perlu dicermati dalam kehidupan publik. Pertama, sikap dan pandangan hidup pragmatis telah dianut oleh sebagian besar masyarakat. Kedua, implikasi dari realitas ini tidak hanya diterapkan dalam perilaku ekonomi dan politik, tetapi juga dalam memilih bentuk kesenian dan kebudayaan. Ketiga, akibat selanjutnya adalah budaya massa dan budaya populer menjadi kiblat mayoritas publik.
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali (id.wikipedia.org). Sedikit melihat kembali sejaranh singkat tentang wayang di Indonesia, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi” (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".
Misalnya, masyarakat Jawa sangat menggemari wayang karena bagi masyarakat Jawa, wayang merupakan gambaran ataupun potret kehidupan manusia sehari-hari. Wayang berasal dari kata ayang atau bayang-bayang. Dalam cerita wayang banyak dilukiskan bahwa yang tidak eling lan waspada akan menemui kehancurannya. Bisa dilihat dari beberapa contoh kutipan wayang:
a. Dalam episode Mahabarata, Yudistiro yang dikenal jujur ternyata juga bisa tidak eling dan berani main dadu dengan mempertaruhkan sang istri, keempat orang adiknya serta kerajaan Indraprasta seisinya. Yudistiro kalah main dadu dan sebagai konsekuensi harus dibuang di hutan selama 13 tahun dan ini merupakan awal dari perang Bharatayudha.
b. Dalam episode Mahabarata, Hastinopura yang dipimpin Prabu Suyudono juga habis ditumpas Pandawa karena ingkar dalam perjanjian.
c. Dalam episode Mahabarata, walaupun pihak pendawa mengalami kemenangan dalam peperangan, tetapi seluruh anak dan istrinya mati terbunuh.
d. Dan sebagainya.
Wayang sebagai Refleksi Teori Pembelajaran Berbasis Kultur (sebuah pembuka)
Posted by Guk Sueb Labels: Humanoria
Eksistensi teori pembelajaran merupakan suatu insrtumen untuk membantu memaksimalkan proses belajar mengajar. Dalam hal ini untuk memudahkan pembelajaran para peserta didik. Untuk memenuhi hal ini, ukanhanya untuk memaksimalkan proses belajar melainkan bagaimana menciptakan suasan belajar yang kondusif dan berkesan.
Dalam proses pembelajaran, kita menganut beberapa teori yang eksis saat ini dari yang teori klasik hingga yang modern. Berbagai teori yang ada, justru akan membuat kita berpotensi untuk mengaplikasikan dengan cara yang salah atau sering menyebutnya ambiguitas arti teori pembelajaran.
Kita tidak mengatakan bahwa teori yang ada tidak bagus atau tidak compatible untuk diterapkan di Indonesia. Tetapi agaknya kita membutuhkan sebuah refleksi untuk mengoptimalkan proses belajar dengan menggunakaninstrumen yang dekat dengan kehidupan kita.
Salah satu sumber teori pendidikan yang ada di sekitar kita adalah wayang. Walaupun wayang lebih diidentikkan dengan nilai kehidupan sosial, namun wayang juga mempunyai nilai-nilai pendidikan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Aris Rachman (2008) bahwa dalam pementasan wayang kulit terkandung peran lain yakni sebagai sarana pendidikan, sarana untuk berkomunikasi serta sarana untuk mempererat tali silaturahmi di antara sesama warga masyarakat. Salah satu metode yang digunakan untuk mengenalkan wayang sebagai teori pendidikan adalah dengan cara mengetahui aspek-aspek yang berhubungan dengan wayang dan menerapkannya dalam dunia pendidikan.
Dengan kompleksitas nilai-nilai yang terkandung di dalam kebudayaan wayang, maka hal ini akan sangat efektif sekali untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dari teori pendidikan yang diterapkan di dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini karena wayang tidak hanya mengandung aspek pendidikan (secara akademik maupun sosial) terlebih terdapat kebudayaan yang mampu meningkatkan eksistensi bangsa ini. Sehingga dengan upaya bagaimana mengotimalisasikan wayang ke dalam pendidikan, maka kita berusaha melestarikan kebudayaan wayang. Selain untuk melestarikan eksistensi wayang di tengah- tengah budaya modern, juga untuk memekarkan andil kontributifnya bagi pendidikan nilai dan karakter bangsa dewasa ini (Bahtiar: 2008).
*)disampaikan pada presentasi mata kuliah Belajar dan Pembelajaran

Dalam melakukan kegiatan Self-assessment terhadap siswa, diperlukan sebuah cara atau metode untuk melakukannya dengan tepat dengan tanpa mengganggu privasi dari seseorang/siswa yang akan dinilai. Ada berbagai cara untuk melakukannya. Salah satu cara atau teknik untukmelakukannya adalah dengan cara menulis jurnal. Ada berbagai alasan mendasar kenapa jurnal digunakan sebagai cara untuk mengetahui
menulis jurnal, merupakan salah satu cara/teknik untuk melakukan self-assessment, dipilih karena hal ini adalah cara yang sederhana. Para siswa telah mengetahui cara melakukan untuk menulis jurnal sejak mereka memulai kelas bahasa; menjadi bahan ajaran untuk mengetahui tingkat ketercapaian dalam bahasa, mereka harus membuat tulisan/karangan yang bagus.
Penilaian itu sendiri dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan, memahami, dan mengartikan informasi dengan harapan untuk menentukan keputusan/perlakuan terhadap aktivitas siswa. Ketika di dalam kelas, self-assesment dilakukan untuk mendiagnosa masalah siswa serta melakukan penilaian yangtepat terhadap kegiatan akademik mereka.
Ketika seorang siswa melakukan penilaian diri sendiri, maka mereka melakukannya dengan cara pandang sendiri (Oscarson: 1989). Hal ini karena mereka harus memberanikan diri untuk mengetahhui di mana letak kekurangannya msing-masing. Dengan kata lain, memberanikan siswa untuk melakukan self-monitoring, akan membantu siswa tersebut untuk mengembangkan pengetahuan mereka melalui cara daya kontrol yang sadar atau mengembangkan kepedulian metakognitif tentang ilmu pengetahuan dan pemikiran (Vygotsky dalam Wray: 1994).
Sehingga fungsi dari self-assessment diharapkan akan menjadi bahan refleksi perkembangan mereka sendiri. Refleksi ini yang akan membantu siswa untuk melakukan kontrol yang lebih baik untuk belajar dan bertanggung jawab. Siswa dapat terus menulis dan belajar tentang tujuan (goal), refleksi dari belajar mereka untuk belajar menjadi lebih baik. Dengan kebaikan dan kemudahan dari menulis jurnal, maka hal ini akan membantu dalam mengumpulkan data dalam proses belajar.

Masyarakat Jawa sangat menggemari Wayang, karena bagi masyarakat Jawa Wayang merupakan gambaran ataupun potret kehidupan manusia sehari-hari. Wayang berasal dari kata ayang atau bayang-bayang. Dalam cerita wayang banyak dilukiskan bahwa yang tidak eling lan waspada akan menemui kehancurannya. Hal ini bisa terlihat dari beberapa cuplikan ceritanya.
Dalam episode Ramayana, Kerajaan Alengka dengan Prabu Rahwana sebagai raja, habis ditumpas oleh Sri-Rama. Kerajaan Alengka ditumpas karena Prabu Rahwana menculik istri Sri Rama, yaitu Dewi Sinta.
Dalam episode Arjuna Sosrobahu, Raden Sumantri sang patih yang gagah perkasa harus menemui ajal ketika melawan Rahwono. Ajal ini sesuai dengan “kutukan” yang berasal dari adiknya sendiri, Sukrasana yang mati dibunuh oleh R. Sumantri. Ia dibunuh karena R. Sumantri.
Dalam episode Arjuna Sosrobahu, Raden Sumantri sang patih yang gagah perkasa harus menemui ajal ketika melawan Rahwono. Ajal ini sesuai dengan “kutukan” yang berasal dari adiknya sendiri, Sukrasana yang mati dibunuh oleh R. Sumantri. Ia dibunuh karena R. Sumantri.
Dalam episode Mahabarata, Yudistiro yang dikenal jujur ternyata juga bisa tidak eling dan berani main dadu dengan mempertaruhkan sang istri, keempat orang adiknya serta kerajaan Indraprasta seisinya. Yudistiro kalah main dadu dan sebagai konsekuensi harus dibuang di hutan selama 13 tahun dan ini merupakan awal dari perang Bharatayudha.
Dalam episode Mahabarata, Hastinopura yang dipimpin Prabu Suyudono juga habis ditumpas Pandawa karena ingkar dalam perjanjian. Dalam episode Mahabarata, walaupun pihak pendawa mengalami kemenangan dalam peperangan, tetapi seluruh anak dan istrinya mati terbunuh.
Oleh karena itu sudah saatny akita kembali ke wayang, bukan kebudayaan lain (terutama Barat) untuk mencari perspektif kehidupan.
Indonesia Bisa Menjadi Tuan Rumah FIFA Piala Dunia 2022 Jika...(2)
Posted by Guk Sueb Labels: Sosial Politik
indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Hal ini pastinya akan menjadi “tantangan” tersendiri bagi penyelanggara. Tetapi masalah bentang negara kita di khatulistiwa tentunya tidak bisa dianggaps sebagai hambatan, tetapi justru menjadikannya sebagai pelengkap. Artinya ketika Indonesia menjadi tuan rumah, penyelanggara seharusnya melaksanakannya dengan baik, jujur, atau dengan kata lain secara profesional.
Pertanyannya, siapa yang akan menjadi penyelanggara? Jawaban atas pertanyaan itu pastinya tertuju kepada badan otoriter persepakbolaan nasional PSSI. Semua orang tahu tentang PSSI, dan bagaimana prestasinya (baca: kegagalan) badan ini. Sehingga ketika badan ini menjadi panitia hajatan akbar 4 tahunan ini, seluruh masyakat berani bertaruh bahwa yang didapatkan adalah kegagalan (lagi).
Kita tidak perlu menyebutkan satu-persatu kegagalan PSSI dalam me”manage” persepakbolaan kita—nihil prestasi di sepak bola nasional maupun internasional merupakan barometer bagaimana kualitas “yang punya hajat”. Dan kita pun sebagai bangsa yang nasionalis tidak akan mau nasionalis kita terkikis oleh kebijakan (kepentingan) para pengurus PSSI.
Sebagai gambaran bahwa PSSI merupakan sebuah badan otoriter yang langsung dibawahi oleh FIFA (selaku badan otoriter dunia). Sehingga pemerintah tidak bisa ikut campur besar dalam kebijakan PSSI. Namun, yang terjadi saat ini adalah bagaimana PSSI dipenuhi oleh para golongan orang-orang yang berkepintingan demi golongannya sendiri.
Tengok saja ketua umum PSSI, Nurdin Halid, seorang yang terang-terangan tersangkut kasus korupsi kelapa sawit masih dengan mudahnya memberikan “instruksi” kepada anak buahnya tentang agenda PSSI meski dari balik jeruji. Di sisi lain, dia merupakan salah satu caleg kawakan di salah satu parpol besar di negeri ini. Artinya, keberadaannya di badan otoriter ini adalah hanyalah hal yang justru mengancam ekistensi persepakbolaan Indonesia. Itu masih di tingkat atas. Bagaimna di tingkat PSSI di tingkat yang lebih rendah? Bisa dijamin bahwa ada “Nurdin Halid” lain yang nangkring di jabatan tertentu.
Yang harus kita lakukan saat ini bagaimana kita menggunakan SDM kita yang melimpah ruah ini sebagai modal untuk “melahirkan kembali” PSSI kita. Artinya, revolusi pangurus PSSI adalah harga mati (sebenarnya juga berlaku di DPR/MPR di Senayan). Dengan demikian, maka akan ada PSSI yang siap dan benar-benar profesional dalam menjalankan roda persepakbolaan Indodesia, termasuk penyelenggaraan FIFA Piala Dunia. Amin
bagaimana hubungannya Freeport dengan Indonesia menjadi Tuan Rumah FIFA Piala Dunia 2022?
silahkan tunggu pembahasan selanjutnya di “Sosial Politik”
Indonesia Bisa Menjadi Tuan Rumah FIFA Piala Dunia 2022 Jika...(1)
Posted by Guk Sueb Labels: Entertain and Others
Isu Indonesia menjadi tuan rumah FIFA Piala Dunia 2022 santer dibahas di kalangan para penggila sepak bola di Nusantara. Dari mulai pro kontra apakah Indonesia layak hingga adanya unsur politik di balik “ide” tersebut, karena disampaikan sesaat menjelang Pemilu Legislatif 9 April silam. Dari berbagai polemik itu, yang terpenting bai kita adalah memandang optimis apa yang menjadi harapan kita. Tetapi, kita harus realistis. Sudah siapkah Indonesia menjadi tuan tumah, akan sedikit dibahas dari dua sisi polemik: bola mania dan sosial politik.
Bukan hayalan tatkala presiden AFC sangat bangga dengan bagaimana atmosfer sepak bola Indonesia ketika menjadi host AFC Piala Asia 2007 kemarin. Indonesia bahkan dipercaya menggelar partai puncak antara Irak dan Saudi Arabia. Dari pertandingan Indonesia di Gelora Bung Karno, suporter Indonesia datang memenuhi tribun seakan akan merobohkan stadion berkapasitas besar tersebut—dieluh-eluhkan sebagai salah satu staion sepak bola terbesar di dunia.
Melihat parameter penggila yang besar, bukan tidak mungkin FIFA akan menyetujui Indenesia menjadi tuan rumah Piala Dunia. Namun, yang pasti tidak berhenti di situ. Berbagai aspek di persepakbolaan kita juga harus dibenahi, dari menghilangkan sikap anarkis, primordialisme, hingga bagaimana para penggila tersebut tetap bersatu dalam sepak bola. Sumber daya yang besar adalah modal tersendiri bagi negeri ini untuk menjaid bangsa yang besar pula. Jika para warga Indonesia bisa mempunyai kesadaran itu, maka peluang Indonesia untuk bersua di persepakbolaan internasional akan terbuka.
Bagaimana dengan kesiapan dari aspek infrastruktur penunjang sepak bola di Indonesia?
Akan dibahas dari perspektif sosial politik di postingan selanjutnya di “Sosial Politik”....
THE FREEDOM WRITERS DIARY (retrieved from www.freedomwritersfoundation.org)
Posted by Guk Sueb Labels: EducationThe Freedom Writers Diary is the amazing true story of strength, courage, and achievement in the face of adversity. In the fall of 1994, in Room 203 at Woodrow Wilson High School in Long Beach, California, an idealistic twenty-four-year-old teacher named Erin Gruwell faced her first group of students, dubbed by the administration as "unteachable, at-risk" teenagers. This group was unlike any she had ever interacted with.
The kids took bets on how long their new teacher would last in their classroom. Then a pivotal event changed their lives forever: when a racial caricature of one of the African American students circulated the classroom, Erin angrily intercepted the drawing and compared it to a Nazi exaggeration of Jews during the Holocaust. To her amazement, the students responded with puzzled looks. Erin was appalled to discover that not one child in her class knew of the Holocaust and its unspeakable horrors. When asked how many had been shot at, however, all raised their hands, and a battle-scar show-and-tell began that shocked Erin even more.
Erin Gruwell had touched a nerve, and she ran with it. Knowing that her students were all too familiar with violence, she introduced them to Anne Frank: The Diary of a Young Girl and Zlata's Diary: A Child's Life in Sarajevo. Reluctant at first to read the strange texts, the students of Room 203 soon paralleled their lives to those of Anne and Zlata- teenagers also surrounded by violence- and could not believe their intense connections to the stories. Each student began to keep his or her own anonymous diary, recording tormenting stories of drug use, struggles with physical and mental abuse, reaction to Erin and her unconventional teaching methods. The results were the foundation of a life-changing, spiritually enriching journey that began with a symbolic "toast for change," and has not stopped since.
From the moment they named themselves the "Freedom Writers," the students of Room 203 changed from a group of apathetic delinquents to a closely knit, motivated family with Erin Gruwell as their guide. The Freedom Writers worked extremely hard to bring their first influences off the page and into their lives, with funds raised from a "Read-a-thon for Tolerance" set up by Erin, as well as endless moonlighting jobs that Erin worked, they arranged for Miep Gies, the courageous Dutch woman who sheltered the Frank family, to visit them in California. Soon after, Zlata Filipovic responded to the Freedom Writers' many letters inviting her to Long Beach, and she spent five days with them, allowing the Freedom Writers to compare notes with her. This reinforced to the Freedom Writers that voices are heard, change is possible, and a difference can be made in people through the power of words.
The Freedom Writers have since continued to spread their story and message throughout the world. In 1997 they held an "Echoes of the Soul" fund-raising concert to help pay for a trip to Washington, D.C., where they toured the Holocaust Museum and presented their diary to Secretary of Education Richard Riley. This trip also allowed them to emulate their heroes, the Freedom Riders, by holding a peace march and prayer vigil for victims of intolerance at the Washington Monument. In 1998 they won the Spirit of Anne Frank Award- the Freedom Writers traveled to New York to accept the award. Most recently, in the summer of 1999, one of their most far-reaching goals was achieved. The Freedom Writers and Erin visited Anne Frank's house in Amsterdam; the concentration camps Auschwitz, Birkenau, and Chelmno in Poland; and visited Zlata in Sarajevo, Bosnia. Most important all 150 Freedom Writers have graduated from High School and are attending college.